CATATAN KULIAH LIDYA PUTRI

AKUNTANSI BIAYA (JOB ORDER COSTING )

Posted on: May 7, 2010


BAB 2
BEBAN POKOK
PRODUKSI PESANAN
(JOB ORDER COSTING)

Penentuan Biaya Berdasarkan Pesanan dan Penentuan Biaya Berdasarkan
Proses
Sistem Akuntansi Biaya Perpetual
Penerapan Job Order Costing di Departemen

46

Tujuan

Tujuan bab ini adalah untuk menerangkan bagaimana biaya pabrikasi dapat
dikendalikan dan dilaporkan dengan penggunaan sistem akuntansi biaya job order,
sebuah sistem yang menggunakan metode perpetual untuk akuntansi persediaan.
Dalam mempelajari sistem akuntansi biaya menurut job order, saudara perhatikan
pada ketiga pertanyaan di bawah ini.
1. Apakah perbedaan pabrikasi yang meliputi produksi masal dan produksi yang
dilakukan berdasarkan pesanan tersendiri?
2. Apakah struktur suatu sistem akuntansi biaya?
3. Ayat jurnal harian dan pencatatan apa yang tersangkut dalam suatu sistem
akuntansi biaya berdasarkan pesanan/ job order?

BEBAN POKOK PRODUKSI PESANAN
(JOB ORDER COSTING)

47

Penentuan Biaya Berdasarkan Pesanan dan
Penentuan Biaya Berdasarkan Proses

Apakah perbedaan antara pabrikasi yang meliputi produksi masal dengan
produksi yang dilakukan berdasarkan pesanan tertentu?
Saudara telah mempelajari akuntansi pabrikasi di mana digunakan pelaporan
persediaan secara periodik. Menurut sistem tersebut, pada akhir suatu jangka waktu
operasi, penghitungan persediaan secara fisik harus dilakukan atas bahan baku,
persediaan dalam proses, dan persediaan barang jadi. Kemudian, juga pada akhir
periode, dibuat kalkulasi biaya barang yang dihasilkan (laporan beban pokok produksi).
Berikutnya, harga pokok barang yang dijual dihitung untuk pembuatan ikhtisar Laba
Rugi. Metode periodik ini mempunyai satu kelemahan utama. Kelemahan tersebut
adalah bahwa biaya pabrikasi tidak dapat dilaporkan dengan mudah selama jangka
waktu operasi. Biaya ditentukan secara periodik (pada akhir periode), tidak dilakukan
terus menerus, yang mungkin diperlukan untuk pengendalian sehari-hari.
Sistem perpetual untuk mengendalikan biaya pabrikasi lebih banyak dipakai
daripada metode periodik karena pengendalian biaya sehari-hari dapat dilakukan
dengan sistem perpetual. Ada dua sistem akuntansi biaya perpetual, yaitu sistem
akuntansi job order dan sistem akuntansi biaya berdasarkan proses.
Sistem job order dirancang untuk mengawasi biaya perusahaan dalam
menghasilkan atau mengerjakan masing-masing pekerjaan/ pesanan. Misalnya,
sebuah cetakan berdasarkan pesanan mungkin akan menggunakan sistem akuntansi
biaya berdasarkan pesanan pekerjaan. Sebuah cetakan berdasarkan pesanan
mungkin akan menggunakan sistem akuntansi biaya berdasarkan pesanan pekerjaan.
Sebuah perusahaan yang membuat perahu pesiar berdasarkan pesanan juga akan
menggunakan sistem akuntansi biaya berdasarkan pesanan pekerjaan. Dalam
sistem seperti itu catatan biaya tertentu dibuat untuk masing-masing pekerjaan.
Catatan tersebut dengan demikian mengumpulkan informasi mengenai biaya bahan
baku, tenaga kerja langsung, dan overhead pabrik untuk setiap pekerjaan. Harga jual
pesanan dapat dibandingkan dengan total biaya pesanan tersebut; dan ketiga unsur
biaya pesanan tersebut (bahan baku, tenaga kerja langsung, dan overhead pabrik)
dapat dianalisa untuk keperluan pengawasan dan dapat dipergunakan sebagai dasar
untuk menentukan harga pekerjaan yang sama dimasa datang.
Sistem akuntansi biaya berdasarkan proses dirancang untuk mengawasi biaya
bagi perusahaan yang menghasilkan barang secara massal. Misalnya, industri
pengolahan makanan dapat menghasilkan ribuah kaleng makanan dalam sehari.
Tekanan pengawasan dalam pabrik ini bukanlah pada unit atau pekerjaan satu per
satu (kaleng makanan) tapi tekanan diarahkan pada pengawasan proses operasi
dalam pabrik. Sebuah pabrik yang menghasilkan komponen mobil secara massal,

48

sebagai contoh, dapat dibagi menjadi empat departemen: departemen pemotongan,
departemen trimming, departemen perakitan, dan departemen pengecatan. Dalam
suatu sistem akuntansi biaya berdasarkan proses, catatan biaya dibuat menurut
departemen (dan bukannya menurut masing-masing pesanan). Ketiga unsur biaya
(bahan baku, tenaga kerja langsung, dan biaya overhead pabrik) dapat dianalisa dan
dikendalikan untuk setiap departemen.
Perbedaan secara umum, karakteristik Penentuan harga pokok pesanan dan
proses, masing-masing metode tersebut dapat ditunjukkan sebagai berikut:

Metode Kalkulasi Harga Pokok
(Cost Accumulation Method)

Biaya Pesanan
(Job Order Costing)
Biaya Proses
(Process Costing)
Harga Pokok
Biaya dikumpulkan untuk
setiap pesanan/kontrak/jasa
secara terpisah dan setiap
pesanan/kontrak/ jasa dapat
di-pisahkan identitasnya
Biaya dikumpulkan untuk
setiap/satuan waktu
tertentu
Dasar kegiatan
Pesanan langganan
Budged produksi/skedul
produksi
Tujuan Produksi
Melayani pesanan
Persediaan yang akan
dijual
Sifat produksi
Intermiten
Kontinyu
Bentuk produksi
Tergantung spesifikasi
pemesan dan dapat dipisahkan
identitasnya
Homogen/standar
Biaya produksi
dikumpulkan
Setiap pesanan (sesuai
dengan biaya yang dinikmati)
Setiap satuan waktu
Kapan biaya produksi
dihitung
Pada saat pesanan selesai
Pada akhir periode/satuan
waktu
Harga pokok dihitung
dengan
Harga pokok pesanan tertentu
dibagi Jumlah produk pesanan
Harga pokok pada
persentase tertentu
dibagi jumlah produk
pada periode ybs.
Contoh
Percetakan, kontraktor me-bel,
konsultan, kantor akun-tan,
karoseri dan lain-lain
Kertas, tekstil, botol,
semen, air minum,
petrokimia dll

49

Ilustrasi Sistem Akuntansi Biaya Perpetual

Apakah struktur suatu sistem akuntansi biaya? Apakah perusahaan menggunakan
sistem akunansi biaya menurut pesanan atau sistem akuntansi biaya berdasarkan
proses, prosedur atau sistem akuntansi biaya berdasarkan proses, prosedur dasar
tertentu untuk pengumpulan biaya adalah sama dalam kedua sistem tersebut.
Ilustrasi JO-1 pada halaman berikut menunjukkan suatu sistem akuntansi biaya yang
menggunakan persediaan perpetual. Perhatikan hubungan dari ketiga persediaan
perpetual (bahan baku dan penolong, barang dalam proses, dan barang jadi) dan
perkiraan lain yang tersangkut dalam sistem dasar ini. Pelajarilah dengan cermat
diagram ini dan lihatlah kembali diagram ini pada saat saudara membaca sisa bagian
ini.
Transaksi Perusahaan dan Pencatatannya
Ayat jurnal harian dan pencatatan apa yang tersangkut dalam suatu sistem
akuntansi biaya berdasarkan pesanan/job order?
Bagian ini menerangkan secara terinci berbagai akuntansi biaya berdasarkan
pesanan. Dengan menggunakan berbagai contoh, kita akan membahas ayat jurnal
harian dan pembukuan yang terdapat dalam sistem ini.
Akuntansi untuk bahan baku. Buku besar sebuah perusahaan manufaktur
mencakup sebuah perkiraan persediaan yang dinamakan persediaan bahan baku
dan penolong (perhatikanlah Ilustrasi JO-1). Perkiraan asset lancar ini biasanya
mempunyai saldo debit pada awal dan akhir setiap masa pembukuan. Kalau sebuah
perusahaan menggunakan berbagai jenis bahan aku dan penolong, sejumlah buku
pembantu dapat dibuatu memberikan rincian perkiraan buku besar. Buku pembantu
seperti itu biasanya dinamakan buku pembantu bahan baku atau buku gudang.
Contoh buku gudang yang umum terdapat pada Ilustrasi JO-2.
Sebagai buku pembantu, buku gudang dapat dipakai untuk beberapa tujuan.
Pertama, kartu tersebut berisi catatan kuantitas setiap bahan baku yang masih ada
dalam pesediaan. Kedua, kalau kartu tersebut menunjukkan bahwa pesediaan telah
mencapai suatu tingkat tertentu (titik pemesanan kembali), suatu pesanan dapat
dilakukan untuk mengisi persediaan. Dan ketiga, buku gudang ini memberikan bukti
tertulis bahwa semua bahan baku yang dibeli benar-benar dipergunakan dalam
produksi.

50

ILUSTRASI SISTEM AKUNTING BIA
Y
A
Y
ANG
MENGGUNAKAN PERSEDIAAN PERPETUAL

PERSEDIAAN BAHAN BAKU
DAN PENOLONG
OVERHEAD P
ABRIK
(Suatu Perkiraan Sementara)
PERSEDIAAN BARANG DALAM PROSES
(Suatu Perkiraan asset lancar)
PERSEDIAAN BARANG JADI
(Suatu Perkiraan asset lancar)
HARGA
BARANG POKOKY
ANG DIJUAL
(Suatu Perkiraan biaya)

Bahan A
wal Baku
dan Penolong
Pembelian bahan
baku penolong
Bahan
Penolong
Biaya
Biaya
Total biaya gaji
pabrik termasuk
biaya tenaga kerja
langsung dan tidak
langsung
Bahan baku dan
penolong yang
dipindahkan ke
produksi
Bahan penolong
yang dipakai
dalam pabrik
Biaya tenaga
kerja langsung
Biaya tenaga
kerja tidak langsung
Bahan penolong
yang dipakai
Biaya prasarana
lainnya (tenaga listrik,
penghapusan asuransi
Biaya prasarana
lainnya (tenaga listrik,
penghapusan
asuransi, dll)
Bahan tenaga kerja
tidak langsung
Biaya
overhead
yang
dibebankan pada
produksi
Total biaya barang
jadi (termasuk bahan
baku, tenaga kerja
langsung, dan biaya
overhead
pabrik
Saldo awal barang
dalam proses
Bahan baku yang
digunakan dalam
produksi
Biaya
overhead
pabrik
yang dibebankan pada
produksi
Biaya tenaga kerja
langsung yang
dipergunakan dalam
produksi
Persediaan awal
barang jadi
Harga pokok barang
yang diselesaikan
Harga pokok
barang yang
dijual
Harga pokok
barang yang
dijual

PERSEDIAAN BAHAN BAKU
DAN PENOLONG

51

Kalau pabrik memerlukan bahan baku, suatu dokumen sumber yang dinamakan
bon permintaan bahan dibuat untuk memberikan wewenang pada petugas gudang
untuk memindahkan bahan ke pabrik. Bon permintaan barang yang umum terlihat
pada Ilustrasi JO-3
Ilustrasi JO-2
KARTU GUDANG
Stoc account no. . . . . . . . . .
Nama barang. . . . . . . . . . . .
Batas pemesanan kembali. . . . . . . . . . . .
Lokasi dalam gudang. . . . . .
Jumlah pemesanan kembali. . . . . . . . . . . . .

Tanggal
Referensi
Diterima
Dikeluarkan
Saldo
Jumlah
unit
Harga
per
unit
Total
harga
Jumlah
unit
Harga
per
unit
Total
harga
Jumlah
unit
Harga
per unit
Total
harga

Buat harian serba-serbi berikut ini menunjukkan dua ayat yang berkaitan dengan
bahan baku dan bahan penolong.

2007 Agustus
30
Pesediaan bahan baku dan penolong
2.000
Utang
2.000
Dibeli bahan baku dan pembantu dari Star
Corporation, syarat 2/10, n/30.
30
Persediaan barang dalam pengerjaan
1.000
Biaya overhead pabrik
400
Bahan baku dan pembantu
1.400
Pemakaian bahan baku dan penolong
untuk produksi: Bon permintaan
barang 904 sebesar Rp 1.000 dan
bon permintaan barang 905 Rp 400.

Ayat jurnal pertama menunjukkan pembelian bahan baku dan pembantu secara
kredit. Perkiraan persediaan bahan baku dan penolong didebit untuk pembelian
tersebut sehingga saldo perkiraan tersebut dapat terus diikuti. Setiap kali perkiraan
ini bertambah, buku pembantu (kartu barang) yang besangkutan juga bertambah.
Misalnya, kalau pembelian sebesar Rp 2.000 terdiri atas Rp 200 komponen 123
dan Rp 1.800 komponen 435, maka Rp 200 akan dibukukan pada kartu barang 123
sebagian suatu penambahan (dalam kolom ”diterima”) dan Rp 1.800 akan dibukukan
pada kartu barang untuk komponen 435 seperti itu juga.

52

Setiap saat, total semua saldo kartu gudang sama dengan saldo perkiraan persediaan
bahan baku dan penolong di buku besar.
Ilustrasi JO-3
BON PERMINTAAN BARANG
Diminta oleh. . . . . . . . . . . . .
Bon permintaan barang no. . . . . . . . . . . . . .
(tanda tangan)
Diberikan oleh. . . . . . . . . . . .
Dibebankan pada pekerjaan no. . . . . . . . . .
(tanda tangan)

Nomor kartu barang
Nama barang
Jumlah unit
Harga per unit
Total harga

Ayat jurnal harian kedua menunjukkan pengeluaran bahan baku dan penolong
sebesar Rp 1.400 ke pabrik dari gudang. Bon permintaan bahan merupakan dokumen
sumber untuk mendukung ayat jurnal ini. Ayat tersebut menunjukkan bahwa bahan
baku sebesar Rp 1.000 diserahkan untuk pekerjaan produksi. Oleh karena itu,
perkiraan persediaan barang dalam proses didebit sejumlah itu. Kalau bahan tidak
langsung dan pembantu (bahan yang tidak langsung dipergunakan dalam pembuatan
produk) dikeluarkan, perkiraan overhead pabrik didebit. Saudara dapat menelusuri
pengeluaran ini pada ilustrasi JO-1. Perhatikan bahwa perkiraan overhead pabrik
merupakan suatu perkiraan sementara; saldonya akhirnya menjadi bagian dari
persediaan barang dalam proses.
Buku pembantu juga harus dibuat untuk perkiraan persediaan barang dalam
proses. Buku pembantu untuk persediaan dalam proses. Buku pembantu untuk
persediaan dalam proses adalah kartu biaya pekerjaan atau buku pembantu
biaya pekerjaan/Job cost card/Job cost sheet–kartu biaya pekerjaan. Ilustrasi JO-
4 menunjukkan suatu kartu biaya yang umum. Sebuah kartu dibuat untuk setiap
pekerjaan.
Pada saat bahan baku diminta dan dipindahkan dari gudang untuk dipergunakan
pada pekerjaan, perkiraan persediaan dalam proses didebit dan perkiraan persediaan
bahan baku dan penolong dikredit (seperti diperlihatkan dalam contoh di atas). Setiap
kali persediaan dalam proses di debiet untuk bahan, kartu biaya pekerjaan yang
bersangkutan dipakai untuk mencatat pemakaian bahan. Pasangan kolom yang

53

pertama pada kartu biaya pekerjaan menunjukkan jumlah rupiah bahan yang dipakai
dan referensi, biasanya nomor bon permintaan bahan.
Ilustrasi JO-4
BON PERMINTAAN BARANG
Pekerjaan no. . . . . . . . . . . . .
Nama pekerjaan. . . . . . . . . .
Tanggal dimulai. . . . . . . . . . . selesai diperkirakan tanggal . . . . . . . . .
selesai tanggal. . . . . . . . . . .

Bahan Baku
Tenaga kerja langsung
Overhead pabrik
Referensi
Jumlah
Referensi
Jumlah
Referensi
Jumlah

Total biaya pekerjaan:
Harga jual pekerjaan
Bahan baku
Tenaga kerja langsung
Overhead pabrik
Komentar:
Contoh lain bentuk kartu job order dengan kolom-kolom yang telah terisi ditampakkan
pada Ilustrasi JO-5 pada halaman berikut ini:
Ilustrasi JO-5
KARTU BIAYA PEKERJAAN/PESANAN
PT Usaha dengan Pabrik Sendiri
Job Order No 534
Malang
Untuk
: SMKN 1 Alengka
Tgl Pesan : 10/5/….
Produk : Kaos olahraga
Tgl Mulai : 14/5/….
Spesifikasi : Sablon plastic
Tgl Minta : 22/5/….
Banyaknya : 2 koli
Tgl Selesai : 20/5/….

54

Bahan Baku
Tenaga kerja langsung
Overhead pabrik
Tanggal
Jumlah
Tanggal
Jumlah
Tanggal
Jumlah
14/5/….
19/5/….
20/5/….
4.200.000
780.000
620.000
14/5/….
17/5/….
18/5/….
19/5/….
20/5/….
780.000
560.000
560.000
240.000
300.000
20/5/….
3.050.000
Jumlah
5.600.000
Jumlah
2.440.000
Jumlah
3.050.000

Bahan Baku
Rp 5.600.000
Upah Langsung
2.440.000
Biaya Overhead
3.050.000
Jumlah
11.090.000
Harga jual
Rp 18.500.000
Biaya pabrik
11.090.000
Biy. pemasaran
1.760.000
Biy. Adm & Um.
1.250.000
Biy. Prod. & Penj.
14.100.000
Laba . . . . . . . . . . . . . . .
4.400.000

Akuntansi untuk tenaga kerja langsung. Unsur biaya yang kedua, tenaga kerja
langsung ditampang untuk sementara dalam suatu perkiraan yang dinamakan upah
pabrik. Perhatikanlah kembali Ilustrasi JO-1. Ketika upah pabrik dipersiapkan, ayat
berikut ini dibuat:

2007 Agustus
25
Upah pabrik
5.000
Pajak upah yang ditahan
400
Utang gaji
4.600

Perkiraan upah pabrik mencakup biaya tenaga kerja langsung dan biaya tenaga
kerja tidak langsung (gaji pengawas yang berkaitan dengan semua pekerjaan dan
karena itu dianggap biaya overhead pabrik). Oleh karena itu upah pabrik selanjutnya
dianalisa dan diklasifikasikan menjadi dua kategori tenaga kerja. Ayat jurnal yang
dibuat:

2007 Agustus
25
Persediaan barang dalam pengerjaan
4.000
Overhead pabrik
1.000
Upah pabrik
5.000
Untuk memindahkan saldo upah pabrik
pada kartu pekerjaan (untuk biaya tenaga
kerja langsung) dan pada overhead
pabirk.

55

Perkiraan sementara, upah pabrik, dikurangi menjadi nol dengan ayat tersebut.
biaya tenaga kerja langsung ditentukan sebesar Rp 4,000; oleh karena itu jumlah ini
jumlah ini didebitkan langsung pada perkiraan persediaan barang dalam proses, yang
akhirnya akan menjadi bagian dari persediaan barang dalam proses.
Setiap kali perkiraan persediaan barang dalam proses didebit untuk tenaga
kerja langsung, kartu biaya pekerjaan pendukungnya harus diperbarui. Biaya tenaga
kerja langsung dipindahbukukan ke kartu biaya pekerjaan untuk pekerjaan yang
bersangkutan. Misalnya, andaikan bahwa biaya tenaga kerja langsung sebesar Rp
4,000 dipergunakan sebagai berikut: Rp 1,000 untuk pekerjaan 241, Rp 500 untuk
pekerjaan 244, dan Rp 2,500 untuk pekerjaan 600. dalam hal ini setiap jumlah harus
dipindahkan pada kartu pekerjaan yang bersangkutan.
Akuntansi untuk overhead pabrik. Seperti terlihat pada Ilustrasi JO-1, perkiraan
overhead pabrik adalah suatu perkiraan sementara yang dipergunakan untuk
mengumpulkan biaya overhead sebelum biaya ini menjadi bagian dari persediaan
barang dalam proses. Perkiraan overhead pabrik didebit untuk:
1. Semua bahan tidak langsung yang dipergunakan dalam pabrik.
2. Semua biaya tenaga kerja tidak langsung.
3. Biaya overhead pabrik lainnya seperti tenaga listrik, penghapusan pabrik dan
mesin-mesin, asuransi pabrik dan lain-lain.
Pada waktu biaya overhead pabrik lainnya menjadi beban, perkiraan overhead
pabrik didebit dan perkiraan kas, utang, cadangan penghapusan atau perkiraan lainnya
yang bersangkutan dikredit, tergantung pada keadaan. Kebanyakan perusahaan juga
membuat perkiraan pembantu untuk overhead juga membuat perkiraan pembantu
untuk overhead pabrik. Perkiraan pembantu ini mempunyai satu kartu untuk setiap
jenis overhead. Setiap kali persediaan overhead pabrik pada buku besar didebit,
perkiraan pembantu yang bersangkutan juga didebit untuk membuat catatan yang
terinci mengenai komposisi biaya overhead.
Perhatikanlah Ilustrasi JO-1 bahwa perkiraan overhead pabrik dikredit dan
perkiraan persediaan barang dalam proses didebit untuk memindahkan biaya
overhead pabrik ke barang dalam proses. Suatu ayat buku harian dibuat untuk
membukukan pemindahan ini seperti berikut:

2007 Agustus
25
Persediaan barang dalam proses
3.000
Biaya overhead pabrik
3.000
Untuk membebankan overhead pabrik
pada pekerjaan yang bersangkutan

Proses pemindahan biaya overhead pada barang dalam proses biasanya
dilakukan berdasarkan taksiran karena manajemen tidak dapat menunggu sampai
akhir periode ketika semua biaya overhead telah terjadi dan dibukukan. Kartu biaya

56

pekerjaan harus dibukukan setiap hari supaya total dapat diawasi secara efektif.
Misalnya, beberapa pekerjaan mungkin diselesaikan dalam pabrik setiap hari. Total
biaya untuk setiap pekerjaan ini harus dihitung sebelum semua biaya overhead
dibukukan untuk bulan yang bersangkutan (biaya tenaga listrik, misalnya).
Salah satu cara yang umum memperkirakan biaya overhead yang dibebankan
pada pekerjaan dapat dijelaskan dengan contoh ini. Misalkan bahwa sebuah
perusahaan memperkirakan akan mengeluarakan biaya tenaga kerja langsung
sebesar Rp 50,000 dalam melakukan pekerjaannya pada masa pembukuan yang akan
datang. Angka ini merupakan perkiraan terbaik yang dapat dibuat oleh manajemen.
Perkiraan ini didasarkan pada informasi yang tersedia mengenai pekerjaan yang
akan dikerjakan dan biaya tenaga kerja langsung. Selanjutnya, diandaikan bahwa
perusahaan memperkirakan akan mengeluarkan biaya overhead apbrik sebesar Rp
40,000 dalam jangka waktu yang sama. angka ini juga merupakan perkiraan terbaik
yang dapat dibuat oleh manajemen. Jika perkiraan ini wajar, maka dapat disimpulkan
bahwa: untuk setiap rupiah tenaga kerja langsung, diperkirakan biaya overhead akan
sebesar 80 rupiah. Artinya, biaya overhead pabrik diharapkan berjumlah 80% dari
biaya tenaga kerja langsung. Dalam bentuk persamaan:
Tarip biaya overhead =
Perkiraan biaya overhead
Pabrik Perkiraan biaya tenaga kerja langsung
Rp 40,000
Rp50,000
=
= 80%
Tarip biaya overhead dapat dipergunakan sebagai dasar untuk memindahkan
biaya overhead pabrik kepekerjaan dalam proses dan pada kartu biaya pekerjaan.
Misalnya, kalau biaya tenaga kerja langsung untuk satu hari berjumlah Rp 1000,
maka biaya overhead pabrik adalah diperkirakan berjumlah Rp 800 (80% dari Rp
1000). Ayat debit akan dimasukan pada perkiraan persediaan barang dalam
proses (dan juga ke kartu biaya pekerjaan) sebesar Rp 800 dan kredit pada
perkiraan overhead pabrik. Banyak perusahaan juga menghitung biaya tenaga kerja
langsung untuk pekerjaan setiap hari sehingga angka biaya yang paling akhir dapat
dipergunakan untuk pengawasan.
Pada akhir masa pembukuan, jika perkiraan yang dibuat benar, sisi debit perkiraan
overhead pabrik akan berjumlah Rp 40,000, biaya overhead pabrik yang benar-benar
terjadi; dan sisi kredit perkiraan biaya overhead pabrik juga akan berjumlah Rp
40,000 (dihitung 80% dari biaya tenaga kerja langsung sebesar Rp 50,000). Tentu
saja, perkiraan yang dibuat akan berbeda sedikit dari waktu ke waktu. Unit berikutnya
akan menjelaskan pengaruh akuntansi dari setiap saldo perkiraan biaya overhead
pabrik yang tersisa pada akhir masa pembukuan. Akuntansi untuk barang yang

57

telah selesai. Kalau suatu pekerjaan telah selesai, kartu biaya pekerjaan tersebut
menunjukkan total biaya pekerjaan tersebut, meliputi bahan baku, tenaga kerja
langsung, dan overhead pabrik. Pekerjaan tersebut sekarang merupakan bagian
dari barang jadi dan siap untuk dijual. Misalnya, andaikan bahwa pekerjaan 484
telah selesai dengan total biaya sebesar Rp 3,218. ayat jurnal untuk menujukkan
penyelesaian pekerjaan adalah:

2007 Agustus
30
Persediaan barang dalam proses
3,218
Persediaan barang dalam proses
3,218
Penyelesaian pekerjaan 484

Kartu biaya pekerjaan (No.484) akan dipindahkan dari buku pembantu yang menunjang
persediaan barang dalam proses dan disimpan untuk keperluan di masa datang. Buku
pembantu barang jadi akan dibuat untuk mendukung perkiraan persediaan barang
jadi. Kartu biaya pekerjaan yang telah selesai dapat dipergunakan untuk ini.
Akuntansi untuk penjualan pesanan. Jika pekerjaan No. 484 dijual dengan harga
Rp 4,000, ayat berikut akan dibuat:

2007 September
1
Beban pokok penjualan barang
3,218
Persediaan barang jadi
3,218
Piutang
4,000
Penjualan
4,00
Dijual pekerjaan 484, harga pokok Rp 3,218,
seharga Rp 4,000

RINGKASAN :

Prosedur Akuntansi Biaya Job Order Costing.
Ayat jurnal yang perlu dibuat dalam jurnal umum dengan menggunakan metode buku
adalah sebagai berikut:
1. Bahan Baku:
a. Pembelian Bahan Baku :
Persediaan Bahan Baku
XX
Hutang Dagang
XX
b. Pemakaian Bahan Baku:
Persediaan Barang Dalam Proses XX
Persediaan Bahan Baku
XX

58

2. Tenaga Kerja Langsung
Biaya Gaji
XX
Hutang pajak karyawan
XX
Hutang asrns. Tenaga kerja
XX
Hutang Gaji
XX
3. Overhead Pabrik:
Penentuan Tarif dan Prosedur Akuntansi Overhead Pabrik:
1. Menyusun anggaran biaya overhead pabrik dan Memilih dasar pembebanan
biaya overhead pabrik ke masing-masing pesanan.
2. Menghitung tarif overhead pabrik dengan:
Anggaran Kapasitas yg digunakan
Tarif Biaya Overhead Pabrik =
Total Anggaran Biaya Overhead
3. Mencatat pembebanan overhead ke masing-masing pesanan
4. Mencatat overhead sesungguhnya dan menutup rekening overhead
sesungguhnya
5. Mencatat selisih pembebanan biaya overhead pabrik berdasarkan tarif yang
ditentukan di muka

Penerapan Job Order Costing di Departemen

Prosedur akuntansi biayanya sebagai berikut:
1. Biaya produksi dikelompokkan untuk setiap departemen di mana pesanan diolah
atau diproses, biaya produksi setiap departemen tersebut digolongkan untuk
setiap elemen biaya.
2. Tarip biaya overhead yang dibebankan pada setiap pesanan ditentukan untuk
setiap departemen
3. Harga pokok pesanan yang sudah selesai dikerjakan pada departemen tertentu
ditransfer ke departemen berikutnya di mana pesanan diolah
4. Harga pokok pesanan yang sudah selesai penuh ditransfer ke persediaan barang
jadi (finished goods).
Rekening buku besar biaya sesungguhnya, biaya overhead yang dibebankan, selisih
biaya overhead harus diselenggarakan untuk setiap departemen.

59

ISTILAH BARU (Glosari)

Factory overhead overhead pabrik. Suatu perkiraan sementara yang dipergunakan
dalam suatu sistem akuntansi biaya untuk menampung semua biaya overhead pabrik,
meliputi tenaga kerja tidak langsung, bahan tidak langsung dan bahan penolong,
dan biaya tidak langsung lainnya; saldo perkiraan ini dipindahkan setiap periode ke
perkiraan persediaan barang dalam proses.
Factory overhead rate tarip biaya overhead pabrik. Sering dinyatakan dalam
bentuk perrupiahtase sehingga biaya overhead pabrik yang diperkirakan merupakan
taksiran dari biaya tenaga kerja langsung; tarip ini dipergunakan untuk membebankan
biaya overhead pabrik pada pekerjaan; Persediaan barang dalam proses didebit dan
perkiraan overhead pabrik dikredit untuk memindahkan biaya overhead pada masing-
masing pekerjaan dan pada perkiraan persediaan barang dalam proses; biaya
overhead pabrik yang benar-benar terjadi tidak dipindahkan pada perkiraan barang
dalam proses ini tidak dilakukan karena jumlah yang sebenarnya tidak diketahui
dengan pasti selama periode operasi.
Factory payroll upah pabrik. Sebuah perkiraan sementara yang dipergunakan
dalam suatu sistem akuntansi biaya untuk menampung semua biaya upah operasi
manufaktur; saldo perkiraan terdiri atas biaya tenaga kerja langsung dan biaya
tenaga kerja tidak langsung; biaya tenaga kerja langsung dipindahkan pada perkiraan
persediaan barang dalam proses dan biaya tenaga kerja tidak langsung menjadi
bagian dari biaya overhead pabrik, yang selanjutnya menjadi bagian dari barang
dalam proses.
Job cost card kartu biaya pekerjaan. Buku pembantu yang dipergunakan untuk
mendukung perkiraan persediaan barang dalam proses dalam suatu sistem akuntansi
biaya berdasarkan pekerjaan; kartu biaya pekerjaan juga dinamakan buku pembantu
barang dalam proses, lihat ilustrasi dalam unit ini.
Job order cost accounting akuntansi biaya berdasarkan pesanan pekerjaan.
Suatu sistem akuntansi yang mempergunakan persediaan perpetual untuk biaya
pabrik, di mana dibuat catatan tertentu untuk masing-masing pekerjaan atau pesanan
yang dibuat pada pabrik tersebut.
Material requisition bon permintaan barang. Otorisasi tertulis untuk memindahkan
bahan dari gudang ke pabrik; dokumen sumber ini memberikan suatu catatan
mengenai semua pemindahan bahan baku dan bahan penolong dari gudang (bahan
baku dan perkiraan persediaan) ke pabrik (perkiraan barang dalam proses atau
perkiraan overhead pabrik).

60

Process cost accounting akuntansi biaya berdasarkan proses. Suatu sistem
akuntansi persediaan perpetual, di mana biaya ditampung dan catatan dibuat menurut
departemen atau proses yang dilakukan dalam pabrik; cocok untuk operasi dengan
produksi massal.
Stores ladger kartu gudang. Buku pembantu untuk mendukung perkiraan bahan
baku dan bahan penolong.

Contoh soal dan penyelesaiannya;

1. Budget overhead ditaksir untuk 1 tahun
= Rp. 13.200.000,-
Taksiran kapasitas
= 75.000 jam kerja
langsung
Kapasitas sesunguhnya adalah
= 6.000 jam kerja langsung
yang terdiri dari:
1. pesanan no. 01
= 2.500 jkl
2. pesanan no. 02
= 1.500 jkl
3. pesanan no. 03
= 2.000 jkl
Overhead sesungguhnya:
- bahan baku tdk langsung
Rp. 480.000,-
- tenaga kerja tdk langsung
Rp. 320.000,-
- pajak atas gaji dan upah
Rp. 327.360,-
- penyusutan mesin pabrik
RP. 54.560,-
- biaya asuransi
Rp. 41.280,-
Rp. 1.223.200,-
Dari contoh di atas Penentuan Tarif dan Prosedur Akuntansi Overhead Pabrik adalah
sebagai berikut;
1. Menyusun anggaran biaya overhead pabrik dan memilih dasar pembebanan
biaya overhead pabrik ke masing-masing pesanan.
2. Menghitung tarif overhead pabrik dengan:
Anggaran Kapasitas yg digunakan
Tarif Biaya Overhead Pabrik =
Total Anggaran Biaya Overhead
3. Mencatat pembebanan overhead ke masing-masing pesanan
4. Mencatat overhead sesungguhnya dan menutup rekening overhead
sesungguhnya

61

5. Mencatat selisih pembebanan biaya overhead pabrik berdasarkan tarif yang
ditentukan di muka
Dari prosedur di atas dapat dihitung tarif biaya overhead dan pencatatannya sebagai
berikut:
75.000 Jkl
13.200.000,-
= Rp. 176,-/ Jkl
=
Anggaran Kapasitas yg digunakan
Tarif Biaya Overhead Pabrik =
Total Anggaran Biaya Overhead
1)
2) Mencatat pembebanan biaya Overhead pabrik untuk ma-sing-masing pesanan:
1. pesanan no. 01 = 2.500 jkl x Rp. 176,- = Rp. 440.000,-
2. pesanan no. 02 = 1.500 jkl x Rp. 176,- = Rp. 264.000,-
3. pesanan no. 03 = 2.000 jkl x Rp. 176,- = Rp. 352.000,-
Rp. 1.056.000,-
Barang dalam proses pesanan no. 01 Rp. 440.000,-
Barang dalam proses pesanan no. 02 Rp. 264.000,-
Barang dalam proses pesanan no. 03 Rp. 352.000,-
Biaya Overhead (yang dibebankan) Rp. 1.056.000,-
3) Mencatat Biaya Overhead Sesungguhnya
Biaya Overhead Sesungguhnya
Rp. 1.223.200,-
Bahan baku tdk langsung
Rp. 480.000,-
Tenaga kerja tdk langsung
Rp. 320.000,-
Pajak atas gaji dan upah
Rp. 327.360,-
Penyusutan mesin pabrik
Rp. 54.560,-
Biaya asuransi
Rp. 41.280,-
4) Menutup rekening overhead sesungguhnya:
Biaya Overhead (yang dibebankan)
Rp. 1.056.000,-
Biaya Overhead Sesungguhnya
Rp. 1.056.000,-
5) Mencatat selisih pembebanan overhead
Selisih Biaya Overhead
Rp. 167.200,-
Biaya Overhead sesungguhnya
Rp. 167.200,-

62

6) Menutup selisih overhead ke C G S/ Beban pokok penjualan
Beban pokok penjualan/CGS
Rp. 167.200,-
Selisih Biaya Overhead
Rp.167.200,-
2. PT “ Aji Jaya Mulya “ menggunakan Tarip overhead yang ditentukan di muka
dalam membebankan biaya overhead. Overhead dibebankan berdasarkan jam
kerja langsung di departement I dan berdasarkan jam mesin di departemen II.
Pada awal bulan Mei tahun 200A diestimasikan :
Departemen I
Departemen II
Jam Kerja Langsung
100.000
20.000
Jam Mesin
10.000
35.000
Biaya TK Langsung
720.000,-
152.000,-
Biaya Overhead
240.000,-
156.800,-
Dari catatan akuntansi PT, data yg dilaporkan untuk pesanan No.11 selama
bulan Mei tahun 200A sbb:
Departemen I
Departemen II
Jam Kerja Langsung
125
50
Jam Mesin
10
205
Biaya BB Langsung
1.288,-
2.400,-
Biaya TK Langsung
900,-
320,-
DIMINTA:
a. Hitung Tarip overhead yang ditentukan di muka untuk setiap departemen
b. Hitung total harga pokok untuk pesanan no: 11 dan harga pokok per unit jika
pesanan no: 11 sebanyak 50 unit.
Jawaban Soal no: 2.
a. Tarif Overhead per Departemen sbb:
Dept.I berdasarkan Jam Kerja Langsung
Jam Kerja Langsung 100.000
=
Biaya Overhead yang diestimasikan 240.000
= 2,4 per JKL
Dept I berdasarkan Jam Mesin
Jam Mesin 35.000
=
Biaya Overhead Yang diestimasikan 156.800
= 4,48 per JM

63

b. Total biaya untuk pesanan no: 11
DEPT.I
DEPT.II
Total Biaya
Biaya BBLangsung 1.288
2.400
3.688
Biaya TK Langsung 900
320
1.220
Biaya Overhead
300*
918,4**
1.218,4
Total Biaya
2.488
3.638,4
6.126,4
* 125 x 2,4 = 300
** 205 x 4,48 = 918,4
Harga Pokok per unit pesanan no. 11 =
50
6.126,4
= 122,528
2. Transaksi keuangan dari PT “Surya Dunia Abadi“ bulan Desember 200A. sbb:
1. Bahan baku untuk mengolah: 1.000 unit pesanan No. 0001, 200 unit pesanan
No. 0002, dan 100 unit pesanan No. 0003
Pesanan No.
Departemen I
Departemen II
Jumlah
0001
Rp. 4.000.000
Rp.
-
Rp. 4.000.000
0002
10.000.000
6.000.000
16.000.000
0003
2.000.000
-
2.000.000
Jumlah
16.000.000
6.000.000
22.000.000
2. Biaya tenaga kerja langsung yang terjadi pada periode tersebut
Order
No.
Departemen I Departemen II
Departemen II
Jumlah
0001
Rp. 4.000.000
Rp. 2.000.000
Rp. 3.000.000
Rp. 9.000.000
0002
4.000.000
5.000.000
3.000.000
12.000.000
0003
2.000.000
1.000.000
-
3.000.000
Jumlah
8.000.000
8.000.000
6.000.000
24.000.000
3. Biaya overhead dibebankan ke pesanan atas dasar tarip yang dihitung pada awal
Desember:
Departemen
Dasar
Tarip Satuan
I
Jam mesin
Rp. 200 per jam
II
Jam mesin
Rp. 400 per jam
III
BTKL
50% dari BTKL

64

4. Jam Mesin dan biaya sesungguhnya pada setiap departemen sbb:
Departemen
Jam Mesin
Overhead Sesunguhnya
I
40.000
Rp. 7.800.000
II
25.000
Rp. 6.100.000
III
-
Rp. 2.950.000
5. Pemakaian jam mesin di departemen I dan II
Pesanan no
Departemen I
Departemen II
I
15.000 jam
9.000 jam
II
20.000 jam
10.000 jam
III
5.000 jam
6.000 jam
6. Pesanan No. 0001 dan 0002 telah selesai dan langsung diserahkan kepada
pemesan, Pesanan No. 0003 telah selesai di departemen II dan sudah ditransfer
ke departemen III .
Diminta:
Buat jurnal untuk mencatat transaksi tersebut dan buatlah Job Cost Card/Job
Cost Sheetnya.
JAWABAN:
1. BDP – Bahan Baku Dept. I
Rp. 16,000.000,-
BDP – Bahan Baku Dept. II
Rp. 6.000.000,-
Bahan Baku
Rp. 22.000.000,-
2. BDP – TKLangsung Dept. I
Rp. 10,000.000,-
BDP – TKLangsung Dept. II
Rp. 8.000.000,-
Gaji dan Upah
Rp. 24.000.000,-
3. BDP – Overhead Dept. I
Rp. 8.000.000,-
BDP – Overhead Dept. II
Rp. 10.000.000,-
BDP – Overhead Dept. III
Rp. 3.000.000,-
Overhead Dept. I
Rp. 8.000.000,-
Overhead Dept. II
Rp. 10.000.000,-
Overhead Dept. III
Rp. 3.000.000,-

65

4. Overhead Sesungguhnya Dept. I
Rp. 7.800.000,-
Overhead Sesungguhnya Dept. II
Rp. 6.100.000,-
Overhead Sesungguhnya Dept. III
Rp. 3.000.000,-
Bermacam-macam Kredit
Rp. 16.850.000,-
5. Overhead dibebankan Dept. I
Rp. 8.000.000,-
Overhead dibebankan Dept. II
Rp. 10.000.000,-
Overhead dibebankan Dept. III
Rp. 3.000.000,-
Overhead Sesungguhnya Dept. I
Rp. 8.000.000,-
Overhead Sesungguhnya Dept. II
Rp. 10.000.000,-
Overhead Sesungguhnya Dept. III
Rp. 3.000.000,-
6. Overhead Sesungguhnya Dept. I
Rp. 200.000,-
Overhead Sesungguhnya Dept. II
Rp. 3.900.000,-
Overhead Sesungguhnya Dept. III
Rp. 50.000,-
Selisih Overhead Dept. I
Rp. 200.000,-
Selisih Overhead Dept. II
Rp. 3.900.000,-
Selisih Overhead Dept. III
Rp. 50.000,-
7. Selisih Overhead
Rp. 4.150.000,-
LR/ BDP/ CGS )
Rp. 4.150.000,-
Dept.
001
002
003
Total
Dept. I
BB Langsung
TK Lansung
Overhead
4
4
3
10
4
4
2
2
1
16
10
8
11
18
5
34
Dept. II
BB Langsung
TK Lansung
Overhead
-
2
3,6
6
5
4
-
1
2,4
6
8
10
5,6
15
3,4
24
Dept. III
BB Langsung
TK Lansung
Overhead
-
3
1,5
-
3
1,5
-
-
-
-
6
3
4,5
4,5
-
9
Total
21,1
37,5
8,4
67

66

Bahan Untuk Tugas

Pertanyaan
1. Bandingkan akuntansi biaya berdasarkan proses dan yang berdasarkan
pesanan.
2. Ayat apa yang dibuat dalam suatu sistem akuntansi biaya berdasarkan pesanan
kalau bahan baku dibeli? Kalau bahan baku dipergunakan untuk pekerjaan?
3. Bagaimanakah cara pembukuan dan distribusi upah pabrik?
4. Ayat buku harian apakah yang berkaitan dengan prasrana pabrik dalam suatu
sistem pesanan pekerjaan?
5. Untuk setiap perkiraan buku besar dalam sistem pesanan pekerjaan yang
terdapat di bawah ini, tunjukkan nama buku pembantu yang dipergunakan untuk
mengumpulkan informasi terinci mengenai perkiraan tersebut:
a. Persediaan bahan baku dan bahan penolong.
b. Persediaan barang dalam proses.
c. Persediaan barang jadi.
d. Overhead pabrik.
6. Jelaskanlah fungsi setiap dokumen berikut yang dipergunakan dalam suatu
sistem akuntansi biaya berdasarkan pesanan pekerjaan:
a. Kartu gudang.
b. Bon permintaan barang.
c. Kartu biaya pekerjaan.

67

LATIHAN
1. Buatlah ayat jurnal harian untuk membukukan transaksi berikut ini.
Perusahaan menggunakan sistem pembukuan biaya menurut pesanan
pekerjaan.
a. Dibeli 1000 unit bahan baku seharga Rp 13,100 tunai.
b. Dikeluarkan 250 unit bahan baku untuk pesanan pekerjaan seharga Rp
2,000 bon permintaan barang no.200.
c. Diserahkan bahan pembantu seharga Rp 700 untuk pemakaian dalam
pabrik, bon permintaan barang no. 201.
d. Upah pabrik berjumlah Rp 10,000 (upah tenaga kerja langsung berjumlah
Rp 7,500). Pajak Pendapatan yang dipotongkan Rp 200.
e. Pindahkan saldo perkiraan upah pabrik.
2. Buatlah ayat pembukuan dalam bentuk buku harian serba-serbi untuk
membukukan transaksi berikut ini. Perusahaan menggunakan sistem pembukuan
biaya menurut pesanan pekerjaan.
a. Misalkan bahwa sebuah perusahaan memperkirakan biaya prasrana pabrik
sebesar Rp 75,000 selama periode tersebut dan Rp 100,000 biaya tenaga
kerja langsung. Hitunglah tarip biaya overhead.
b. Biaya tenaga kerja langsung untuk sehari berjumlah Rp 2,000. Pergunakanlah
tarip tersebut yang telah saudara hitung pada pertanyaan a untuk menghitung
dan membukukan biaya overhead pabrik.
c. Andaikan bahwa pekerjaan 600 telah selesai dengan seluruh biaya berjumlah
Rp 7,110.
d. Pekerjaan 600 dijual dengan harga Rp 7,500, kredit.
3. Bukukanlah transaksi berikut. Perusahaan menggunakan sistem pembukuan
biaya menurut pesanan pekerjaan. Pergunakanlah sistem perpetual.
a. Dibeli bahan baku seharga Rp 5,000 tunai.

68

b. Dikeluarkan bahan baku untuk pekerjaan pabrik Rp 2,000.
c. Dikeluarkan bahan pembantu Rp 500 untuk pemakaian di pabrik.
d. Dibayarkan upah sebesar Rp 20,000 (biaya tenaga kerja langsung berjumlah
Rp 11,000). Pajak Pendapatan yang dipotongkan Rp 200.
e. Pindahkan saldo perkiraan upah pabrik.
f. Tarip biaya overhead yang dipakai adalah 75% dari biaya tenaga kerja
langsung.
g. Pekerjaan yang telah selesai. Biaya bahan baku berjumlah Rp 300 dan biaya
tenaga kerja langsung berjumlah Rp 500. pindahkanlah pekerjaan tersebut ke
barang jadi.
h. Dijual pekerjaan tersebut seharga Rp 2,500 dengan syarat 2/15, n/60.
4. Narno Corporation menggunakan sistem pembukuan biaya menurut pesanan
pekerjaan. Buatlah ayat jurnal harian untuk membukukan transaksi berikut
ini.
a. Upah pabrik bejumlah Rp 38,000 untuk minggu tersebut. Pajak Pendapatan
yang dipotongkan Rp 1,990, dan pajak pendapatan Rp 4,260.
b. Dipindahkan saldo upah pabrik: 90% upah pabrik merupakan biaya
tenaga kerja langsung, dan sisanya merupakan biaya tenaga kerja tidak
langsung.
c. Dibeli 131.500 unit bahan baku A dari Star Company, dengan syarat 2/10,
n/30, seharga Rp 30,630.
d. Dikeluarkan bahan untuk paham produksi sebagai berikut:

a141 Bahan baku A untuk pekerjaan 216

2,600

a142 Bahan baku B untuk pekerjaan 201

4,000

a143 Bahan pembantu

1,500

a143 Bahan permintaan barang

e. Bebankan biaya overhead pabrik pada barang dalam pengerjaan. Tarip
overhead adalah 62% dari biaya tenaga kerja langsung.

69

f. Dibayar tagihan bulanan keperluan pabrik Rp 1,072.
g. Dibayar biaya asuransi untuk pabrik Rp 1,000
h. Diselesaikan pesanan/ pekerjaan 211. Kartu biaya pekerjaan untuk nomor
211 menunjukkan total biaya sebagai berikut:
Bahanbaku Rp 10,000
Tenaga kerja langsung
12,000
Biaya overhead dibebankan pada semua pekerjaan dengan tarip 62%.
i. Dijual pekerjaan 211 seharga Rp 40,000 tunai. Lihat h.
j. Dijual pekerjaan 214 seharga Rp 24,000 dengan syarat 1/10, n/30. Kartu
biaya pesanan/ pekerjaan 214 menunjukkan total biaya Rp 16,900, meliputi
tenaga kerja langsung, bahan baku, dan overhead pabrik.
SOAL (KELOMPOK A)
1. Ayat pesanan pekerjaan. Buatlah ayat pembukuan dalam buku harian serba-serbi
untuk transaksi berikut ini. Perusahaan menggunakan sistem pembukuan biaya
menurut pesanan /pekerjaan.
a. Dibeli 10.000 unit bahan baku X dari ABC Company dengan syarat 2/10, n/30
seharga Rp 4,320.
b. Dikeluarkan bahan baku dan penolong sebagai berikut:
(1) Bahan baku X untuk dipergunakan pada pekerjaan 241; harga Rp 1,000;
bon permintaan bahan no. 1040.
(2) Bahan pembantu untuk dipergunakan bagi perkiraan umum Rp 141; Bon
permintaan bahan 1041.
c. Upah pabrik berjumlah Rp 8,000. Pajak pendapatan Rp 1,400 dipotongkan.
d. Dipindahkan saldo upah pabrik: tenaga kerja langsung Rp 7,000 dan biaya
tenaga kerja tidak langsung Rp 1000.
e. Bebankan biaya overhead pabrik pada pekerjaan dalam proses. Tarip biaya
overhead adalah 70% dari biaya tenaga kerja langsung.

70

f. Dibayarkan tagihan listrik untuk pabrik Rp 700
g. Diselesaikan pekerjaan tersebut Rp 300 dan biaya tenaga kerja langsung
berjumlah Rp 900.
Pindahkan pekerjaan tersebut ke barang jadi. Tarip overhead adalah 70%.
h. Dijual pesanan 456 seharga Rp 2,300 tunai.
2. Ayat jurnal pesanan pekerjaan; buku pembantu. Neraca Dista Company, sebuah
perusahaan pembuat mainan anak-anak berdasarkan pesanan terlihat di bawah
ini:

Dista Company
NERACA
1 Januari 2007
ASET
Kas
Rp87,900
Piutang (netto)
11,000
Persediaan bahan baku
4,000
Persediaan barang dalam proses (Mainan)
9,000
Barang jadi – mainan
8,000
Investasi
20,000
Rp139,900
KEWAJIBAN
Utang
Rp6,000
MODAL
Saham biasa
80,000
Laba yang ditahan
53,900
Rp139,900

Sebagian transaksi untuk bulan Januari 1978 telihat di bawah ini:
a. Dibayar biaya penjualan Rp 5,000
b. Dibeli bahan baku seharga Rp 13,000, kredit.

71

c. Upah pabrik berjumlah Rp 13,400.
d. Dipindahkan upah pabrik: Tenaga kerja langsung Rp 9,000; tenaga kerja
tidak langsung Rp 4,400.
e. Biaya overhead sebesar Rp 7,000 dibayar tunai.
f. Biaya umum sebesar Rp 1,000 dibayar tunai.
g. Biaya overhead dibebankan pada pekerjaan dengan tarip 65% dari biaya
tenaga kerja langsung.
h. Diselesaikan mainan dan dipindahkan ke gudang barang jadi. Total biaya
mainan yang telah selesai (termasuk bahan baku, tenaga kerja langsung dan
biaya overhead yang dibebankan) berjumlah Rp 25,000.
i. Dijual mainan yang harga pokoknya Rp 30,000 seharga Rp50,000 tunai.
DIMINTA:
A. Bukukanlah transaksi tersebut dalam buku serba serbi.
B. Sebutkanlah sebanyak mungkin buku pembantu yang saudara ketahui untuk
mendukung perkiraan yang terdapat pada neraca.
3. Penghitungan biaya pesanan/pekerjaan; Tabel berikut berisi data mengenai
beberapa kasus yang berdiri sendiri.

Pesanan
No.
Total biaya
bahan
baku
langsung
pesanan
Total biaya
tenaga
kerja
langsung
pesanan
Tarip
overhead
pabrik
didasarkan
pada biaya
tenaga
kerja
langsung
Total biaya
overhead
pesanan
Total biaya
pesanan
Harga
penjualan
pesanan
Laba
kotor yang
diperoleh
atas
pesanan
1,496
Rp 1,000
80%
Rp 5,000
Rp 2,000
2,150
Rp 3,000
Rp 9,000
70%
Rp 25,000 —
3,506
Rp 3,500
60%
Rp 2,000
4,111
Rp 2,000
75%
Rp 9,000
Rp 1,000
6,543
Rp 5,000
25%
Rp 30,000 Rp 10,000

72

DIMINTA:
Hitunglah angka yang tidak ada. Tunjukkan perhitungan saudara.
SOAL (KELOMPOK B)
4. Ayat jurnal pesanan. Buatlah ayat jurnal untuk membukukan transaksi berikut ini.
Perusahaan memakai sistem akuntansi biaya pesanan pekerjaan.
a. Dibeli 15.000 unit bahan baku 17 dari Ace Supplier seharga Rp7,500.
b. Dikeluarkan 2.000 unit bahan baku 17 untuk dipergunakan pada pekerjaan 18
seharga Rp 1000. Bon permintaan barang no. 387.
c. Dikeluarkan bahan pembantu Rp 400 untuk pabrik, bon permintaan barang
no. 388.
d. Upah Rp 3,000. Pajak pendapatan Rp 210. Upah langsung Rp 2,300.
e. Dipindahkan saldo perkiraan upah pabrik.
f. Biaya overhead ibebankan dengan tarip 75% dari biaya tenaga kerja
langsung.
g. Diselesaikan pesanan no. 500. Biaya bahan baku untuk pesanan ersebut
berjumlah Rp 100 dan tenaga kerja langsung Rp 300. Pekerjaan tersebut
dipindahkan ke barang jadi.
h. Dijual pekerjaan 500 seharga Rp 900 dengan syarat 2/15, n/60.
5. Ayat jurnal pesanan. Bululawang Corporaton menggunakan sistem akuntansi
biaya berdasarkan pesanan pekerjaan. Buatlah ayat dalam buku harian serba-
serbi untuk membukukan transaksi berikut:
a. Upah Rp 19,000. Pajak pendapatan Rp 2,130. Pajak pendapatan yang
dipotongkan Rp 995.
b. Dipindahkan saldo perkiraan upah pabrik: 90% tenaga kerja langsung,
sisanya tenaga kerja tidak langsung.

73

c. Dibeli 131.500 unit bahan baku A dari Sardo Company, dengan syarat 2/10,
n/30 seharga Rp 15,315.
d. Dikeluarkan bahan untuk produksi sebagai berikut (no.141, 142 dan 143
adalah nomor permintaan barang):
141 Bahan A untuk 216
Rp1,300
142 Bahan B untuk 201
2,000
143 Bahan penolong
750
e. Bebankan overhead pabrik barang dalam proses. Tiap overhead adalah 62%
biaya tenaga kerja langsung.
f. Dibayar utilitas Rp 536.
g. Dibayar biaya asuransi pabrik Rp 500
h. Diselesaikan pekerjaan No. 211. Kartu biaya pekerjaan untuk No.211
menunjukkan total biaya sebagai berikut:
Bahan baku
Rp 5,000
Tenaga kerja langsung
6,000
Biaya overhead dibebankan pada semua pekerjaan dengan tarip 62%.
i. Pesanan 211 dijual Rp 20,000 tunai, lihat h.
j. Dijual pekerjaan 214 seharga Rp 12,000 dengan syarat 1/10, n/30. Kartu
biaya untuk pekerjaan 214 menunjukkan total biaya sebesar Rp 8,450,
termasuk tenaga kerja langsung, bahan baku, dan overhead pabrik.
6. Analisa perkiraan “T”; hubungan perkiraan, pesanan pekerjaan. Andaikan bahwa
saudara baru membeli kepentingan dalam suatu operasi manufaktur. Pembukuan
lengkap tidak ada, tapi saudara dapat mengumpulkan data dari pembukuan
operasi tahun lalu.
Saldo awal bahan baku dan bahan pembantu
Rp 10,000
Bahan pembantu yang dipergunakan dalam pabrik
Rp 2,000
Pembelian bahan baku dan penolong
Rp 150,000
Biaya overhead pabrik yang dibebankan pada produksi
Rp 90,000
Biaya tenaga kerja langsung
Rp 15,000
Total upah pabrik
Rp 88,000

74

Pesediaan awal barang dalam proses
Rp 100,000
Total barang yang selesai dan dipindahkan ke barang jadi
Rp 117,000
Persediaan akhir barang dalam proses
Rp 233,000
Harga pokok barang yang dijual
Rp 100,000
Persediaan akhir barang jadi
Rp 57,000
Satu angka penting yang tidak ada adalah persediaan akhir bahan baku dan
bahan pembantu. Angka ini diperlukan sebelum ikhtisar Laba Rugi untuk periode
yang bersangkutan dapat diselesaikan. Dari informasi yang ada, tentukan jumlah
persediaan akhir bahan baku dan bahan penolong.
PETUNJUK
Buatlah perkiraan “T” sama seperti yang terdapat pada Ilustrasi JO-1. Masukkan
informasi yang diketahui, dan lihatlah apakah saudara dapat menentukan angka
yang tidak ada tersebut. Pada akhir periode, perkiraan overhead pabrik dan
perkiraan upah pabrik mepunyai saldo nol.
SOAL ULANGAN KUMULATIF
7. Soal ulangan kumulatif (periodik, manufaktur).
Buku besar Sardo Corporation untuk tahun yang berakhir 31 Desember 2007
menunjukkan perkiraan dan saldo berikut:
Kas
18,000
Biaya umum dan administrasi
68,000
Surat berharga
60,000
Piutang
30,000
Cadangan piutang ragu-ragu
2,000
Persediaan bahan baku
40,000
Persediaan barang dalam proses
30,000
Persediaan barang jadi
36,000
Asuransi dibayar di muka
4,000
Investasi jangka panjang
200,000
Pabrik dan mesin-mesin
600,000
Cadangan penghapusan
200,000
Utang
62,000
Utang biaya
16,000
Utang pajak pendapatan
4,000
Obligasi bayar
260,000
Wesel bayar jangka panjang
180,000

75

Saham biasa
120,000
Laba yang ditahan
50,000
Dividen
10,000
Penjualan
780,000
Penjualan retur dan potongan
22,000
Potongan penjualan
8,000
Pendapatan sewa
80,000
Pembelian bahan baku
300,000
Biaya tenaga kerja langsung
90,000
Biaya overhead pabrik
62,000
Biaya penjualan
60,000
Biaya umum, administrasi dan lainnya
176,000
Informasi tambahan:
Buku pembantu biaya overhead pabrik menunjukkan saldo berikut:’
Tenaga kerja tidak langsung Rp 20,000; Bahan pembantu Rp 60; Listrik Rp
2,000; Penghapusan Rp 22,000; Assuransi Rp 2,000. Biaya overhead lainnya Rp
15,400.
Penghitungan persediaan secara fisik pada tanggal 31 Desember menunjukkan
saldo berikut:
Persediaan bahan baku
Rp 24,000
Persediaan barang jadi
120,000
Persediaan barang dalam proses
100,000
Dalam tahun tersebut ada 20.000 lembar saham biasa yang beredar.
DIMINTA:
a. Buatlah laporan beban pokok produksi dalam bentuk yang baik.
b. Buatlah skedul overhead pabrik. Periksalah apakah total skedul tersebut
cocok dengan perkiraan biaya overhead pabrik yang terdapat pada buku
besar.
c. Buatlah ikhtisar Laba Rugi.

76

d. Buatlah neraca dalam bentuk yang baik. Jangan lupa memasukkan
persediaan akhir dalam neraca. Laba yang ditahan untuk akhir periode
harus dihitung dari saldo awal ditambah laba bersih dikurangi dengan
dividen.
8. Soal ulangan kumulatif (pesanan /pekerjaan). Buatlah ayat jurnal untuk
membukukan transaksi berikut. Perusahaan menggunakan sistem akuntansi
biaya pesanan pekerjaan.
a. Dibeli 10.000 unit bahan baku X dari SinarTerang Company, dengan syarat
2/10, n/30. Total pembelian Rp 8,640.
b. Dikeluarkan bahan baku dan penolong untuk dipakai di pabrik sebagai
berikut:
(1) Dikeluarkan bahan X untuk dipakai pada pekerjaan 241 seharga Rp
2,000. Bon permintaan barang no.1040.
(2) Bahan penolong untuk pemeliharaan Rp 282; Bon permintaan barang
no.1041.
c. Upah Rp 16,000 Pajak pendapatan yang dipotongkan Rp 2,800.
d. Dipindahkan saldo upah pabrik: Tenaga kerja langsung Rp 14,000 dan tenaga
kerja tidak langsung Rp 2,000.
e. Dibebankan biaya overhead pabrik ke barang dalam proses. Tarip yang
dipakai adalah 70% dari biaya tenaga kerja langsung.
f. Dibayar rekening listrik untuk pabrik Rp 1,400.
g. Diselesaikan pesanan 456. Bahan baku berjumlah Rp 600, dan tenaga kerja
langsung berjumlah Rp 1,800. Pesanan tersebut dipindahkan ke barang jadi.
Biaya overhead telah dibebankan dengan tarip 70%.
h. Pesanan 456 dijual dengan harga Rp 4,600, tunai.
9. PT “ MIA “ menggunakan sistem harga pokok pesanan. Sebelum operasi
pada awal bulan Mei 2007, manajemen perusahaan memprediksikan biaya
overhead sebesar Rp. 71.680,- dan mengestimasikan jam mesin yang
diperlukan sebanyak 6.400 jam. Pada bulan Mei 2007 mempunyai data-data
sbb:

77

a. Barang dalam proses ( WIP ) untuk masing-masing pesanan pada awal bulan
Mei 2007 pada rekening buku besar adalah sbb:

Job. A
Job.B
Job.C
BB Langsung
Rp. 3.080,-
Rp. 504.-
Rp. 798,-
TK Langsung
Rp. 2.100,-
Rp. 665,-
Rp. 392,-
Overhead
Rp. 1.470,-
Rp. 1.421,-
Rp. 840,-
Jumlah
Rp. 6.650,-
Rp. 2.590,- Rp. 2.030,-

b. Selama bulan Mei 2007 telah dikeluarkan biaya :

BB Langsung
Rp. 3.242,
TK Langsung
Rp. 1.428,-
Overhead
Rp. 5.607,-

b. Pada akhir bulan Mei pesanan Job. A, Job. B dan Job. C seluruhnya telah
diselesaikan, dan masing-masing Job cost sheet menunjukkan sbb:

Job.A
Job.B
Job.C
BB Lansung
Rp. 280,-
Rp. 1.400,-
Rp. 1.562,-
TK Langsung
Rp. 630,-
RP. 483,-
Rp. 315,-
Jam Mesin
230 jam
202 jam
70 jam

DIMINTA:
a. Hitung overhead yang dibebankan ke seluruh pesanan selama bulan Mei
2007
b. Buat ayat jurnal yang diperlukan dan tutuplah rekening selisih overhead ke
Beban pokok penjualan.
c. Hitung total Biaya untuk masing-masing pesanan.
10. PT “Aji Jaya Mulya” menggunakan “tarif overhead yang telah ditentukan”
dalam membebankan biaya overhead. Overhead dibebankan berdasarkan
jam mesin (tarip satuan = Rp 160 per jam) di departement I dan berdasarkan
machine haours (tarip satuan = Rp320 per jam) di departemen II, dan
berdasarkan biaya tenaga kerja langsung (tarip = 50% biaya tenaga kerja
langsung).

78

a. Pada awal bulan Oktober tahun 2007 “AJM“ memproduksi 1.000 unit
pesanan A, 200 unit pesanan B dan 100 unit pesanan C.
b. Selama bulan Oktober 2006 telah dikeluarkan biaya :

Depart. I Depart. I
Depart. III
Biaya BB Langsung Rp 12.800.000 Rp 4.800.000
-
Biaya TK Langsung Rp 8.000.000 Rp 6.400.000
Rp4.800.000
Overhead Actual
Rp 6.240.000 Rp 4.880.000
Rp2.236.000

c. Pada akhir bulan Oktober pesanan A, pesanan B telah diselesaikan,
sedangkan pesanan C telah selesai di departemen II dan sudah ditransfer
ke departemen III. Dan masing-masing Job cost sheet menunjukkan
sbb:

Departement.
Pesanan
A
Pesanan
B
Pesanan
C
Dept. I:
BB Langsung
TK Lansung
Overhead
Rp 3.200.000
Rp 3.200.000
15.000 jam
Rp 8.000.000
Rp 3.200.000
20.000 jam
Rp 1.600.000
Rp 1.600.000
5.000 jam
Dept. II :
BB Langsung
TK Lansung
Overhead
-
Rp 1.600.000
9.000 jam
Rp 4.800.000
Rp 4..000.000
10.000 jam
-
Rp 800.000
6.000 jam
Dept. III :
BB Langsung
TK Lansung
Overhead
-
Rp 2.400.000
50 % BTKL
-
Rp 2.400.000
50 % BTKL
-
-
-

DIMINTA:
a. Hitung overhead yang dibebankan untuk seluruh pesanan selama bulan
Oktober 2007. Jelaskan over/underapplied (overhead yang lebih/kurang
dibebankan) serta favorable/unfavorable (selisih yang menguntungkan/tidak
menguntungkan)

79

b. Buat jurnal yang diperlukan dan tutuplah rekening overhead variance (selisih)
ke Cost of Goods Sold (beban pokok penjualan).
c. Hitung total maupun cost per unit untuk masing-masing pesanan dengan
menunjukkan Job Cost Sheet.

80
About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: